Kamis, 11 Juli 2013

yang terlewatkan bag#2

yang terlewatkan #1
-----------------

Sunset di pantai ini telah berlalu. Pulang, ya itulah sesuatu yang sedari tadi kami tunggu. Dengan riang kami pun kembali dengan rombongan yang segera bertolak ke SMP N 6 tercinta. SMP kita bersama. SMP yang menyimpan sejuta cerita , tawa dan air mata.

Sesampainya di gerbang depan, bagas langsung menghampiriku. Agak sedikit mengherankan memang. Tapi kucoba mengasai diri setenang mungkin.

“shill, kamu pulang naik apa?” tanyanya penuh perhatian.

“gak tau nih. Papa dari tak gak bales sms aku” ucapku.

“bareng aku aja yuk” ajaknya. Benar-benar membuatku terkejut. Sejak kapan bagas berubah menjadi semanis ini. Sejak kapan ia peduli denganku. Apa sejak pernyataannya di pantai tadi? . orang yang aneh, batinku.

“ehmm, tapi pulangnya entaran aja ya. Nunggu teman yang lain dijemput dulu, kan kasihan” jawabku setengah menolak. Aku masih berharap papa atau siapapun ada yang menjemputku. Jadi tak ada alasan untukku pulang bersama bagas. Ya, aku berharap.

“iya dong, biasanya juga gitu kan” ucapnya diikuti kekehan. Dengan senyum yang mengembang ia percepat langkah dan kembali jauh dari tempatku berada. Syukurlah ...

Menit demi menit berlalu. Kini koridor utama SMP 6 telah sepi penghuni. Hanya tinggal 7 orang yang tersisa, dengan 3 motor yang masih tenang terparkir. Hanya nia yang masih menunggu jemputan. Sedangkan 5 yang lain sudah siap dengan motor yang siap membawa masing-msasing mereeka pulang. Sedangkanku, masih bimbang. Jujur aku masih ingin dijemput entah oleh siapa. tetapi kalau pun tidak, bagas telah siap dan berjanji mengantarku pulang. Aku hanya menanti keajaiban.

Tak lama ada seorang pria seumuran kita datang dengan motor matic putihnya. Awalnya aku mengira itu yang akan menjemput nia tapi ternyata ...

Hp ku berdering, kuangkat  panggilan masuk tersebut. Dari Dias rupanya.

“assalamu alaikum” sapaku.

“wa alaikum salam” sapa orang diseberang telepon.

“Aku sudah diluar gerbang nih. Kamu udah sampai di spesix kan?” katanya agak tergesa.

Spesix adalah sebutan gaul bagi SMP Negeri 6 Semarang, yang sangat familier bagi kalangan siswa maupun khalayak umum lainnya.

“beneran?” untuk memastikan, kupandang kearah luar gerbang. Obrolanku ini ternyata menyedot perhatian teman yang lain. Mereka dengan seksama memperhatikan setiap kata yang terlontar dari mulutku. Namun, tidak untuk bagas. Ia tetap asyik dengan androidnya tanpa sedikit pun mau menoleh ke arahku.

“iya, kamu di sebelah mana?” tanyanya sedikit khawatir.

Aku ingin menangis terharu, ternyata ada orang yang benar-benar tulus dan peduli denganku. Terbesit sedikit penyesalan saat ku menatap kearah bagas. Ah lagi-lagi bagas kenapa dulu aku begitu mengharapkannya. Padahal jelas tak ada sedikitpun hatinya untukku. Tapi ya sudahlah, tanpa bagas mungkin saat ini aku belum mengenal cinta.

“oke, tunggu sebentar ya” kututup telepon.

Seketika teman yang lain bersorak menggoda. “cieeee” ucap mereka kompak.

“apaan sih?” ucapku malu-malu.

“cieee shilla udah punya pacar” goda nia.

Aku semakin malu dibuatnya. Bagas? Kurasa dia biasa saja. Syukurlah ...

Tiba-tiba bibir ini berucap, “daripada nunggu orang yang gak merasa ditunggu” aku berkata tanpa sadar. bagas pun bagai dibangunkan dari mimpinya langsung tersedak dan menoleh ke arahku “borosss” lanjutku tanpa memperdulikan tatapan matanya. Kali ini dengan nada sedikit menyindir.

Kata-kataku ini direspon dengan kekehan sebagian teman. Sebagian lagi tampak lebih memperdulikan bagas yang kusindir terang-terangan. Sedangkan bagas, masih tetap stay cool walaupun raut muka gonduknya masih sangat terpampang nyata.

“teman-teman, aku duluan ya” ucapku sangat bersemangat.

Kuraih tas dan aku segera berlalu. Baru beberapa langkah menuju gerbang aku kembali. Nampaknya Ada sesuatu yang masih mengganjal.

“kok balik lagi shill?” tanya rizky keheranan.

“ummm, bagas maaf ya gak bisa pulang bareng” ucapku sedikit kaku. Tak ada respon. Aku menyesal mengucap kata ini, sungguh. Buang-buang waktu saja, batinku.

Aku segera menghampiri dias dan naik ke atas motornya. Ada sebagian teman yang menyaksikan kami. Kubalas senyuman dari jauh. Sedangkan dias yang mukanya tertutup slayer dan helm pun turut serta mengangguk. Ternyata dias lebih punya etika daripada ... stop! Aku tak punya hak membandingkan keduanya. Maksudku dias dan bagas.


---------------------
yang terlewatkan #3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar