Kamis, 11 Juli 2013

Gladi Widya Satya Hannung Mahardika II

Mungkin kalian bertanya-tanya. Apa maksud judul penuh misteri diatas. Oke, seperti nama anak ya. Eittss tapi tentu itu bukan anakku. Anakku masih sekolah noohh *gagal move on* atau kalian berfikiran seperti nama raja. Seperti Sri Sultan Hamengku Buwana IX. Apik kaann sama-sama ada angka romawi di belakang nama. Gawe ah, Khurnia Tri Utami XIV. Apik ee nduk—“. Tapi itu masih salah. Sini-sini ikut aku, lumayan nambah wawasan. Hihi :3

Gladi ... Mahardika , itu ... sori disingkat. Salahe dowo* nama ... , kota? Rak mungkin. Hewan? Pliss yaa. Negara? Tidak tidak. Cantik? Bisa jadi bisa jadi. Abaikan ! abaikan semua kata2 diatas. Gladi Widya Satya Hannung Mahardika II adalah ... lomba. Lomba 17 an? Peso mana peso--_”. Udah langsung aja lah, itu adalah lomba untuk pramuka penegak yang diadakan oleh Kwarcab Kota Semarang. Dan tentu lombanya tingkat kota, kota semarang pastinya. Tahun Ini adalah kali kedua lomba ini diadain lho gaayyyss. Dan lomba yang baru lewat seminggu yang lalu ini bertempat di gedung III IAIN Walisongo. Ngaliyan tepatnya. Wow jauhhh yaa *nyegat becak*

Aku mau nyeritain di sesi persiapannya dulu yaa. Ini adalah lomba paling sesuatu, ya bagiku. Persiapan Cuma seminggu. Emang dasar suratnya datangnya telat juga karena kepancal ukk juga. Okelah kita latihan seadanya. Ngenesnya lagi, alumni banyak yang gak peduli tapi untung aja masih ada segelintir yang care. Tur nuwun ya mbak mas *sok akrab*. Langsung ke action nya aja ya. Karena jujur kalo soal persiapan terutama persiapan diri aku pribadi itu ngisin2i. Wis to yakin aku wae isin og apalagi untuk khalayak umum seperti sampeyan sampeyan. Yo rak boss!

Pertama, terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatnya untuk kita dapat mengikuti lomba yang kali pertama kita ikuti ini. Serta untuk seluruh manusia yang terlibat di dalamnya. Pamer sitik yaa! Ehem. Alhamdulillah SMA N 2 Semarang dapat pulang dengan membawa 9 piala termasuk didalamnya piala juara umum dan piala untuk sangga putri tergiat. FYI aja nih peserta nya sitik tok, jadi yoo ojo terlalu seneng nduk iso dadi juara umum. Eh eh tapi tetep bangga deng akakak *sak jane isin*. Dan sayang banget smanda Cuma mengirim 2 sangga putri. Sangga putra nya nothing, yaudahlah udah kelewat juga kaann-__-

Ada pelajaran yang kudapat dari lomba ini. Bukan pelajaran fisika maupun kimia. Tapi ini pelajaran moral yang belum tentu bisa kudapatkan di tempat lain. Ya, kini aku menyadari betapa penting dan berartinya doa orang tua. Memang selama ini aku pun tahu bahwa doa orang tua itu sangat sesuatu dibandingkan doa orang lainnya. Tapi, kini benar-benar terpampang nyata pernyataan itu benar adanya dan aku sendiri pun merasakannya. Tenan wis saestu. Mungkin tanpa do’a mereka, kedua tropi yang kudapatkan dari hasil kolaborasiku bersama dhani dan sukma tak bakal didapat. Ya, diatas kertas memang kami telah kalah. Tapi ...

Kenapa demikian? Gini aja wes, jika dinalar latihan seminggu untuk sebuah lomba sekelas GWSHM ki rak masuk akal. Intuk opo jal? Lhawong lomba futsal tingkat sekolah wae latihan nganti berbulan-bulan og *ngarang*. Secara pribadi pun aku rak yakin. Bayangno, kita udah dibagi2 lombanya. Oke, kita latihan sesuai lomba masing-masing. Tapi seiring berjalannya hari, kita menemukan keganjalan. Jadwalnya natap-natap. Oke, kita ubah-ubah lagi lombanya, dan nyarisnya berubah parah. Aku yang awalnya dapet lomba LCT+Scouting Skill harus siap gak siap ganti lomba jadi LCT dan TTG. Sumpah, ini bener-bener ... ahh pokoke ngono lah. Kalian tau kan? Gimana public speaking ku? Parah, persentasi didepan temen-temen wae rak ono sing ngrungoke po meneh jurine mengko. Wis to, aku Cuma bisa pasrah. Untunglah aku di duetkan dengan Dhani. Teman yang bagiku lebih alay dan polos dariku tapi cukup menjadi teman yang bisa membangkitkan semangat dan memunculkan benih harapaan. Kata demi kata dalam makalah kami seleksi satu-satu, Maklumlah copas wkwk. Cara pembuatan alat pun kami resapi step demi step. Tentu dengan bumbu tekad yang sebenarnya kunci dari sebuah semangat itu sendiri. Eitts gak cukup sampai disitu, ini pengalaman kita ikut lomba TTG. Dan lomba pertamaku yang membutuhkan skill public speaking. Eh eh tapi ada mindset yang menguatkanku, cekidot! Allah SWT kan memberiku mulut sejak aku dilahirkan, sejak bayi pun aku sudah berlatih berbicara dan sampai sekarang pun setiap waktu aku berkomunikasi dengan bicara, mosok iyo ngomong 5 menit wae aku rak iso. Kan tinggal belajar makalah, dipahami dan menggunakan kata-kata yang tepat saat persentasi. Dah ngono tok? Bar kan. Eh eh omonganmu! Rak segampang kuwi yo. Sing paling berperan ki mental yo. Mboh latihan nganti jungkel2 pun nek mentale tempe tetep wae diidak sitik mblenyek *apaan kuwi*. Okelah, kuserahkan semua kepada Allah SWT. Aku sudah melakukan yang seharusnya ku lakukan, masalah berhasil atau tidak itu kuasanya. Oke brohhh

Pasrah bukan berati aku diam saja. Terdengar bisikan, MOVEE KHURR MOVEE dari dalam kalbuku *nek iki ngapusi*. Oke, gak mungkin aku stagnan disini. Ini lomba bro, gawe opo kemampuanku tetep nek melu lomba. Mubadzir tenagaku nduk. Alhasil, 2-1 hari sebelum hari H aku benar-benar berlatih suara. Bukan, bukan untuk olah vokal dan duet bersama bagas yang kumaksud. Tapi ngomong, ngomong dengan EYD yang tepat dan mimik meyakinkan di hadapan juri serta khalayak umum. Ya, abot sih. Tapi rela bagi-bagi? *edan*

Alhamdulillah dengan berbekal tawa dari alumni dan senior saat aku dan dhani berlatih persentasi di hadapan mereka. Aku berhasil membuktikan. Dengan alat sederhana, kecil dan tanpa teknologi. Sebuah pot berbentuk tunas kelapa dari stocking yang berhias manik-manik aku telah menciptakan sejarah. LAY! Benar kok, aku maksudku kami, aku dan dhani berhasil menyabet juara ketiga dalam lomba yang benar-benar bagi kami sesuatu yang baru. Terima kasih Allah. *sujud syukur*

Selanjutnya, di lomba LCT. Ini merupakan lomba keduaku di bidang ini. Sebelumnya, lagasakti telah menghantarkanku menjadi juara 2 dibidang ini. Bersama dhani dan mbak yanis tentu saja. Tapi, kejayaan di lagasakti hampir saja tertutup oleh realita bahwa latihan di lomba kali ini hanya seminggu. Berkali-kali lebih singkat dari persiapan lagasakti yang suwine puoolll. Oke, tambahan aja lagasakti ini bisa dibilang lomba modus bagiku. Kesenengannya ++, disamping kesenangan lomba pada umumnya, lomba ini juga yang mempertemukanku dengan alif selain itu juga membuatku bisa bermalam di SMA N 5 Semarang kawan. Sangar po rak, cah smala wae rung tentu iso nginep. B-) *kipas-kipas*

Persiapan lomba LCT ini bisa dibilang lebih indah dari TTG. Aku tinggal mengulas yang dulu pernah ku pelajari mati-matian saat lomba perdana lagasakti. Okee, semoga hasilnya pun seindah latihannya kawan. Semoga.

Saat babak kualifikasi, masing-masing dari kita mengerjakan soal tertulis yang sama antara satu dan yang lain. Tapi, benar-benar diluar ekspetasi. Boden powell yang kita kira bakal keluar bejibun di soal ternyata hanya 1 atau 2 saja. Mbangeti. Kau tahu? Soale rata-rata PU. Buseettt dah, aku rak cah suara merdeka pak buukkk. ben urusan tak garap engger, rak mudeng jhoonn.

Skip. alhamdulillah, kedua sangga Tribhuana Tunggadewi (baca:sanggaku) lolos ke babak 3 besar. Dengan satu lagi saingan yaitu sangga Mohammad Hatta dari SMK N 2 Semarang. SMK ne mbakku jhoonn, yakin nek kalah mesti aku di bully. Hmmh belum tau siapa saya *ndelok bang napi*

Ada yang berbeda di babak final ini. Yaps, tidak ada bel. Sebagai gantinya, sebelum menjawab pertanyaan kita harus melakukan serentetan tantangan. Antaranya : makan pisang, makan telur asin, minum aqua gelas full, makan tomat mentah, ngitung beras, niup balon sampe meletus, memasukan korek ke tempatnya, makan roti, memasukan jarum ke benang dan sg paling nggondukke ki nggolek semut hidup. Gimana? Konyol kan tantangane. Siapa yang paling cepat, itu yang diberi kesempatan menjawab. Oke, rak sah dipiker. Ndak mumet.

Dari sekian tantangan itu, aku kebagian ngitung beras, makan roti, memasukkan jarum ke benang dan golek semut (bagi yg ini semua). Ngitung beras? Aku berhasil. Aku tercepat dari yang lain. Makan roti? Saestu seret banget, pas wis bar lomba aku lagek sadar nek mangan rotiku koyok wong kesurupan, nggilani. Kalah sisan, jan apes tenan. Memasukkan jarum ke benang? Nek iki aku nggonduk, aku malah memasukkan benang ke jarum. Ngisin-ngisini to nduk, ncen og. Golek semut? Iso to jhon, pertama malah. Tapi semute tekan juri mati. Podo wae ngonduk. Kon golek neh to aku. Hoho, unforgettable experience.


Sekali lagi alhamdulillah, aku menang. Gak tanggung-tanggung aku juara siji lhoo cah. Tralala~, oh ya juara 2 nya itu masih satu rekan yaitu sangga tribhuana tuggadewi 2 dan yang juara 3 nya SMK N 2. Okelah, selamat semuaaaa. Love,love untuk pengalamannya yaapppsss.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar