Kamis, 11 Oktober 2012

Rindu tak sampai


Pagi ini masih segan rasanya untukku menyambut senyum hangat sang surya. Entah kenapa raga ini seakan tak mau berkompromi dengan hiruk pikuknya kota semarang, yang seyogyanya tak pernah luput kujamah. Namun, aku tak ingin berlama-lama. Ku musnahkan segala keraguan yang membelenggu itu. ku  kobarkan lekas-lekas semangat baruku, semangat putih abu-abuku, semangat yang telah kuperjuangkan mati-matian setahun ini. Rasanya tak sabar menginjakkan kaki di SMA bercorak jersey Timnas Belanda yang baru saja menganggapku sebagai keluarga barunya itu.
Hari ini spesial, itu bagiku. Bagi keluargaku, biasa saja. Buktinya aku yang malang melintang menyambut atribut baru ini tak sedikitpun mendapat sambutan istimewa. Aku tetap saja dibiarkan berangkat seorang diri ke sekolah yang sesungguhnya belum akrab denganku. Aku pun terima saja walau sebenarnya ingin diantar tepat didepan gerbang seperti teman-teman yang lain. Tetapi, ya sudahlah.
Aku bergegas meninggalkan rumah, perjuangan pun dimulai. Kali ini rintangan yang harus ku tempuh adalah berjalan yang jauhnya sekitar 1,5 km. Cukup melelahkan memang, tetapi dengan tersenyum semuanya terasa mudah dan indah. Aku pun begitu menikmatinya.
“akhirnya” kataku sembari menghela napas panjang. Akhirnya aku dapat segera mengistirahatkan kaki ini. Rintihanya menusuk hingga ketulang-tulang, aku pun miris merasakanya.
Telah ku tempatkan raga ini ke dalam angkot yang nantinya akan mengantarku ke depan gerbang sekolah. Kini aku hanya tinggal menunggu pak sopir mengemuKakan angkotnya. Tak berapa lama angkot pun melaju. Segera ku penakkan pandangan menuju ke jendela dengan pemandangan terindah, hanya sekedar untuk menyeka penat.
Tiba-tiba ...

Aku melihat seseorang dari balik jendela, sepertinya aku kenal. Dia ... , ah lupakan. Aku tak ingat. Mungkin hanya mirip dengannya. sungguh tak ada sisa-sisa namanya dalam otakku, mukanya memang familier tetapi ...
Ahhh mengapa aku begitu memaksa untuk tahu siapa dia. Kenapa otak ini tak mau berfikir lebih lembut, kenapa jiwaku seolah terbelenggu oleh kehadiran sosok tanpa nama itu. Ohhh Tuhan...
Ya, rambut kriwilnya itu mengingatkanku pada seseorang. Tapi siapa? Entahlah. Aku berlalu. Kucoba mencari pemandangan lain dari sisi jendela yang berbeda. Bagai terhipnotis, bola mataku kembali lagi serasa tak ingin berpaling. Semakin berpaling, ingatanku bekerja semakin hebat. Ku coba mengingatnya lagi. sosok familier tadi memang telah tak tampak tetapi bayangan tadi belum juga mau berlari dari otak ini.
            Tiba-tiba bagai terantuk tebing terjal, jiwa ini terguncang hebat. Aku terpaku. bagai terperintah, kedua bola mata ini serempak kelu. Air mata pun sekenanya mengalir saja, aku tak kuasa membendungnya. Bibir ini mengucap satu kata, walau tak begitu jelas ucapanya.
“Kaka...” cetusku tanpa sadar. benar sekali, ya aku mengenalnya. Dialah ... ahh malas sekali menyebut namanya. Nampaknya tak banyak yang berubah dari dirinya, tetap seperti yang dulu.
            Mengingat namanya, serta merta masa-masa indah lalu turut menyesaki otakku. Saat saat dimana kita merasa ruang kelas milik berdua. Bercanda, saling mengejek tanpa memperdulikan teman yang lain. Jujur, aku rindu candaanmu yang dulu, yang menjaKakan aku sulit melupakan bayangmu. Aku ingin berdiskusi matematika dengan sosokmu yang sok cool itu. Aku kangen ketika kita ditegur guru karena sibuk sendiri ketika beliau menerangkan. Tuhan... aku rindu semua itu.
            Apa kabar Kaka? , itulah kata yang ingin kuucapkan sesegera mungkin. Namun, aku tak memiliki cukup nyali untuk sekedar mengeja kalimat itu. Entah, aku sendiri saja tak mampu menjabarkannya. Sebenarnya ada satu penyesalan yang sampai saat ini belum bisa lepas dari benakku. Mungkin ini juga yang salah satu penyebab canggungnya hubungan kita sekarang. Seandainya waktu bisa kembali, aku tak akan menyiakan saat itu. Ingin rasanya ku ulur waktu semampuku serta tak akan kubiarkan lepas sekenanya saja. Ku tiadakan ujian, ya pemikiran konyol itu muncul lagi. Aku tak terlalu menahu akan dampak ujian itu yang pasti ujian merupakan akhir perjuangan anak kelas IX dibangku SMP, mungkin karenanya aku dan Kakaterpisah. Sebenarnya bukan karena itu melainkan ada hal lain dibalik ujian nasional nan penuh misteri itu yang sampai saat ini pun tak mampu kujelaskan. Padahal raung galaunya begitu gempar terasa sampai sekarang.

            Hari ini adalah jadwal cap tiga jari ijazah di SMP ku tercinta. Dengan demikian hari ini juga aku bisa menuai rindu bersama teman-teman SMP tersayang. Aku gak sabar ingin segera bertemu mereka apalagi seragam kita nanti kan udah gak sama lagi udah pakai rok abu-abu lagi, ahhh lucunya. Namun, tiba-tiba aku terantuk pada suatu kejanggalan. Kaka, ya benar Kaka. Tak peduli rinduku menggunung yang pasti aku tetap tak ingin bertemu dia. Aku benar-benar mati gaya dihadapannya. Aku tak kuasa mengatur diri ini ketika melihat senyumnya. Aku terlanjur malu. Sungguh habis sudah muka ini untuk memandangnya nanti.
            Aku berangkat menuju SMP bersama teman-teman yang kini masih satu sekolah denganku, lumayan banyak memang. Di sepanjang jalan aku mencoba menenangkan diri selekas mungkin. Aku tak ingin benar-benar terlihat memalukan didepan Kakananti. Aku berjuang, tertatih sendirian tak ada pula yang menawarkan bantuan. Ya allah semoga aku tak bertemu dengannya, amin. itulah sebait doa yang terpanjat spontan dalam hati.
            Setelah sekitar 30 menit berada dalam angkot, sampailah kami di SMP. Begitu sampai tanpa berpikir lebih lama aku langsung menuju tempat yang paling dan teramat ku rindukan. Kelas IX ku, ya kelas IX G tepatnya. Aku rindu tempat itu, tempat dimana saat-saat terindahku mengenakan seragam putih biru yang kini digantung dengan wewangian abadi. Kelas yang tak pernah sepi oleh candaan para penghuninya, sertatempat yang paling bersejarah bagi perjalanan cintaku. Siapa lagi kalau bukan dengan Kaka, huhhh Lagi-lagi nama itu.
             Aku yang sedang asyik memandangi ruang kelas menjelma menjadi acuh tak acuh pada keadaan sekitar. Aku merasa dunia ini milik diriku seorang. Senyum, tertawa kecil kulakukan tanpa kawan bak penghuni anyar Rumah Sakit Jiwa.
            “subhanallah” bacaan tasbih yang dilontarkan dengan nada mengejek itu menyadarkan  lamunanku. Ku toleh kearah sumber suara. Tampak seketika sosok dengan senyum manisnya didepan mataku. Tubuhku gemetar, tetapi tetap kucoba menguasai diri.
            “Kaka” jawabku datar.
            Dia tersenyum simpul, manis sekali.
            Kita saling hemat bicara. Diam tanpa seribu kata. Benar dugaanku aku sungguh dibuat mati gaya dihadapannya.
            Aku melirik tajam kearah lengan kanan atas bajunya hanya sekedar untuk melihat bet sekolah barunya. Mengetahui maksudku, Kakabertindak. Dengan cekatan ia langsung menutup lengan yang kupandangi tadi dengan tangan kirinya. Lucu, hampir saja aku dibuat tertawa lepas dengan sikap jenakanya itu, untung saja aku sukses mengontrol diri. Usahanya itupun sia-sia aku berhasil mengintip bet sekolahnya. Secara otomatis, aku tahu sekolah abu-abunya itu ya aku tahu.
            Usahaku berlanjut, kini lengan kirinya menjadi incaranku. Jangan sampai bet jurusan yang tertempel disana membuat rambutku beruban hanya karena dibuat penasaran olehnya.
            “ssstttt” desahnya seraya menutupi lengan kirinya dengan telapak tangan kanannya. Lagi-lagi ia telat, aku sukses menintipnya. Yeahhh yuhuuu...
            “oooo” responku standar setelah mengetahui sekolah serta jurusan teman istimewaku itu. Walaupun sebenarnya hatiku begitu girang.
            Seakan tak mau kalah, ia melakukan hal yang sama. Ia mencoba mengintip ketiga bet yang tertata di lengan kananku. Tak ingin berbuat sama dengannya, aku melakukan hal lain. Kudekatkan lenganku itu kearah pandangannya. Mukanya tetap tanpa ekspresi begitu juga aku, kita sama-sama terlihat begitu polos.
            “heeemmm” responnya tak kalah standar. Aku tertawa kecil, tersirat keinginan untuk tak beranjak dari depan kelas kesayangan ini yang tentu saja bersama dengannya.
            Beberapa menit saling mengunci mulut. Kakamulai membuka suara “eh aku turun dulu ya” ijinnya.
            Aku hanya mengangguk. Ingin sebenarnya menahan, tetapi apa hakku. Aku?! Ahh aku tak lebih dari teman, teman masa lalunya





.
>.>> kaka itu nama samaran guys, mau tahu yang sebenarnya ? baca post selanjutnyaaa...

DIA ,,, MAZIA !!!


Heemm gak terasa udah lama ya bray aku kagak ngeposting. Kangeen ya? Okelah karena aku sayang kalian semua para pengunjung blog kebanggaanku tercinta ini, dengan senang hati Aku mau share experience yang bener2 ngebuat aku speechless dan masih terbayang2 sampai sekarang. Mau tahu??? Okey cekidot!

Kejadian ini terjadi jum’at lalu tepatnya tanggal 10 Agustus saat aku mengikuti shalat tarawih berjamaah di Masjid Uswatun Hasanah dekat rumah. Waktu itu berawal dari aku yang sedang mencari sandal saat usai rakaat ke 8 dengan niat buru2 pulang agar tak terlalu larut untuk ngerjain tugas yang memaksaku ke warnet.

Tiba-tiba ...

“khurnia” suara lembut perempuan yang sebaya denganku sukses alihkan perhatianku.
Ku toleh ke hadapanya, ku tatap wajah yang begitu familier itu. Tak perlu lama mengingat di pikiranku telah terpahat namanya “mazia ...”
 

ya, benar. dia Mazia, sahabat TK ku, SD ku dan jika sekali lagi kau tanya aku jawabanku pasti, kita masih sahabat. Tak peduli apakah ia anggap ku sahabat atau sekadar teman masa kecil yang tak berhak diingat.
Suasana berubah bak drama, di tengah puluhan jamaah yang sedang bersimpuh menghadap sang pencipta, aku dan mazia sekilas terlihat seperti ibu dan anak yang telah puluhan lamanya tak bertemu.

Mazia mengajakku bersalaman, aku tak langsung merayuh uluran tanganya itu. Aku mencoba mengulur waktu, sungguh niatku hanya bercanda. Dia seakan tak melirik candaanku, okelah aku luluh dan kurayuh tanganya itu. Dia menggenggam tanganku erat, erat sekali. Tak disangka, tangan kasar ku ini ditaruhnya di pipinya bersama dengan tanganya yang menggenggam tanganku. Aku seakan terantuk tebing curam, sesak sekali. Hatiku terhimpit aku pun trenyuh baru ku sadari ini bukan waktu yang tepat untuk mengumbar tawa.

Diatas tadi hanyalah sedikit drama yang terjadi malam itu. Setelahnya dilanjut dengan pertanyaan2 kecil yang berasa sampai ke tulang2
dia bertanya “saiki neng ndi saiki khur?”
“neng kene lho ya, neng mesjid” lagi2 candaan mubazir itu terlontar dari mulutku.
“sing nggenah”
“SMA duuuuaaa” ku sengaja kata dua itu ku ganti dengan versi iklan ayu ting ting. Kali ini ia sedikit tersenyum.

Giliran aku bertanya, “ngelanjut dimana?” benar dugaanku, ia melanjutkan ke PONPES nya di Solo. Ponpes yang 3 tahun lalu sukses memisahkan kita, membuat jarak antara kita tetapi ponpes itu juga lah yang menumbuhkan rindu antara kita J . pernyataannya selanjutnya yang membuat aku tercengang. Ia berkata bahwa disana ia mempunyai teman yang bernama sama denganku, Khurnia. Amazinggg !!! memang pernyataanya itu terlihat sepele namu artinya subhanallah. Kau tahu? Itu berarti selama ini ia masih mengingatku, masih mengaku bahwa pernah mempunyai teman yang bernama Khurnia(aku) selain itu jika ia mengungkapkan kata itu berarti walau sejengkal ia masih memikirkan aku, masih mempunyai niat untuk menceritakan hal kecil ini kepadaku. Ohh So sweet ...


Lalu, ia bercerita bahwa tadi sore ia mengisi tausiyah di Masjid ini dalam hati sungguh aku menyesal kenapa aku gak berangkat, kenapa ku lewatkan hari penting ini. Aku ingin melihatnya ya Allah. aku ingin menyaksikan sahabatku ini berdakwah membagi ilmunya ...

Ia bertanya lagi, “omahmu isih sing kuwi to” iya, jawabku. Kenapa dia bertanya demikian dia mau main silahkan. Tapi apa coba artinya ohhh aku belum bisa menafsirnya. Semoga bukan pertanda apapun ya, amin.
Sudah, sudah selesai pertanyaan2 sarat makna itu. Tapi tak secepat itu kami meninggalkan Masjid. Kini tinggal ungkapan2 kangen yang tersirat di kedua pasang mata kita atau sesekali juga tersurat dari ucap dan perilaku kita. Dia mengepalkan tangan dan didekatkan ke arah dadanya, matanya berkaca2, sama sepertiku. 

Aku bener2 speechless secuil kalimatpun tak mampu ku ucap. Kembali dia memecah kesunyian tapi yang ini membuat kegalauan. Betapa tidak, ia berpamit pulang aku tak serta merta mampu mencegahnya. Kita bersalaman lagi, kini giliran aku, gantian aku melakukan hal drama yang dilakukanya awal tadi. Ku taruh genggaman tanganku dan tangannya di pipiku. Benar, rasa rindu ku kian memudar tapi rasa tak ingin berpisah pun kian menguat.

_the end_

Untuk sahabatku : Mazia.
semoga, kalian semua dan khusunya Mazia senang membacanya J


posting temu kangen

hai semuahhhhh
sudah lama aku tidak menyapa kaliaaannn
kangen yaaaa
huuummm peyuuuk
haha alay
aku ada 3 cerpen nih bray, dibaca ya
tahu dong kalo menulis cerpen itu adalah PASSION mahadahsyat ku sebelum badminton dan SDP *ups
eh eh tau SDP???
pasti engga
kosakata baru lho guys, di catat ya ...
kapan2 aku bakal cerita banyak deh tentang tiga huruf keramat itu
OK guysss
cekidot cuss ke cerpen nya yaaa
di posting selanjutnya
~tralaalaaa
gomawo
arigatou
merci
thanks
terima kasih
matur nuwun
:) :) :)
:* :* :*