Jumat, 06 Juni 2014

dibalik sebuah REKOR



angkot? Why not!

1.      Terjadi sekitar setahun yang lalu, saat sekolahku mengadakan pensi tahunan, smanda methamorphosis #2 namanya. Rekor ini terpecahkan teman-teman. Rekor yang tak pernah kuduga-duga. Apa itu?
Yesss, saat acara itu, pulangnya malam. Yaiyalahh. Saat acara itu aku jomblo, cueekkk. Saat acara itu tak ada kamu, lhaterus?-_- ya pokoknya saat acara itu aku menantang maut. Pulang sekitar jam tengah 12 malam atau sekitar pukul 23.30 WIB. Aku iya aku, bersama herlina iya herlina pulang bersama-sama menuju ke genuk, tepatnya ke rumahnya bukan rumahku. Mana rumahmu?

Oke, tak ada yang perlu dikhawatirkan kan ya? Aku menggonceng dia. Lalala~
Hingga takdir membawa kita ke suatu tempat. Pasar genuk, iya sebuah pasar di genuk. Disitu, dia menurunkanku, mengucapkan salam perpisahan dan memotivasiku untuk hati-hati di jalan. Kupandang sekeliling, sepi. Kupandang hatiku, sepi. Kupandang langit, rame. Penuh bintang bertaburan.
Oke aku berjalan, dimana biasa orang-orang menunggu bis lewat. Tapi tak seperti biasa, disini sangat sepi sekali. Bis pun jarang sekali lewat. Paling yang ada hanya bis nusantara, indonesia, khatulistiwa atau apalah itu. Dimana bis demak? Dimana? Atau minimal bis jepara lah? Bis kuat? Bis millah? =,=

Ssemenit, dua menit berlalu. Hingga hampir setengah jam aku stay di trotoar itu. Hingga aku jenuh. Aku hopeless. Kurasa bis demak telah lelah dan kembali ke rumah. Di jalan hanya tersisa tapak tilasnya. Ada mas-mas mendekat. Aku takut. Aku membaca doa. Mas nya pergi. Alhamdulillah, allah melindungiku. Mataku tertuju pada pos ojek. Masih ada 1 ojek beserta bapaknya. Tanpa menghitungnya dgn rumus terlebih dahulu, langsung kuhampiri ojek beserta pemiliknya tsb. Terjadi tawar menawar di antara kami. Okelah, kesepakatan diraih. Aku naik ojek menuju rumah. Jam berapa itu? Masyaallah, aku kurang cabe-cabean apa coba? Omaigot ngono yo iso nglakoni ya-_-

2.       Masih di tahun yang sama. Masih di latar waktu yang sama. Malam hari. Tapi tempat yang berbeda. Aku, ah lagi-lagi aku. Pulang sendiri malem-malem. Di genuk? Bukanbukan. Di smanda? Apalagi, enggak lah. Di hatimu? Bisasaja, bisasaja. Di... mana ya? Mau tau? Di... situ, iya disitu. Di jalan Sriwijaya Km ... semarang. tempat yang cukup asing bagiku. Jarang bgt aku menjamah jalan itu. Ya pokoknya disitu. Tau kan? pasti kalian tau.

Waktu itu jam ... ah aku lupa. Pokoknya udah malem buangeeettt. Aku pulang kegiatan, ya seputar ekstra itulah. sampe mualem buanget, gak ada yang jemput, gaak ada yang nganter, jan apes uripku nduk. Okelah aku berjuang sendiri. untuk hidupku, untuk masa depanku. Ku gunakan feeling ku, ku cegat angkot. Aku bersama temenku waktu itu, tapi dia Cuma nungguin aku dapet angkot. Selebihnya, dia pulang aku pun pulang. Ku pakai arah setahuku dgn segala kenekatanku. Kutunggu angkot, lama bangeeettt. Tapi seperti halnya jodoh, angkot itu datang disaat yang seharusnya. Penumpangnya hanya aku seorang, wow serasa mobil pribadi. Oke fix, aku bener2 sendirian. Oke fix, aku kudu semangat.

Perjuanganku tdk berhenti sampai disitu, setelah ngepol angkot itu, sebut saja sampai di johar. Aku masih harus naik angkot yang jurusannya ke genuk. Oke kalau ini aku agak sedikit tenang. Karena kuyakin masih banyak dan ini memang angkot langgannanku pas smp. Oke dapet, tapi tapi terjadi 1 insiden. Sepatuku jebol pemirsaahhh. Masya allah cobaan apalagi inihh!! Aha, sepatu jebol tdk menyurutkan semangatku. Masih bisa tak seret kan? toh di angkot kan jg duduk. Ya kan ya? Telah sampai genuk, satu lagi bis harus kutunggangi. Bis demak. Ah lagi-lagi bis demak. Aku berdoa masih ada, agar tragedi ojek tak kembali terulang. Agak lama sih, tapi bis itu datang. Entah jam berapa itu, aku pulang. Dengan muka kuyu, aku kembali mendapat cobaan. Aku harus jalan dari gapura bates menuju rumah. Ya jaraknya hampir se km, 2 km, 3 km, ah entah. Pokoke lumayanlah. Sepatu? Oh ya aku hampir melupakannya. rak mungkin lah aku berjalan sambil menyeret, balekku kapan? Sepatu tak cangking, aku nyeker. Yeahhh, have fun ya khurr. Namanya juga ikhtiar J

3.       Yang ketiga Ini perjuanganku untuk bisa bertemu teman-teman.  Walaupun hasilnya yaa.. gak jauh dari kata nihil. Alias nihil sekali. Waktu itu aku lagi rapopo. Aku beserta mejiku janjian untuk main bareng. Awal masuk sma, masih polos masih kekanak2an bingit. Janjian di sma 5, dp mall tepatnya, eh gramed pastinya ya pokoke sekitar situ. Aku otw dari smanda, naik brt. Masih sok-sok an gitu naik brt nya. masih ngerasa kedinginan juga. Pokoknya masih kelihatan udiknya. Sepanjang jalan aku masih kontak2an sama mereka. E lha dalah hpku mati ditengah jalan. Yaudah aku berusaha survival tanpa hp. Info terakhir yang kudapatkan adalah janjian di tempat awal. Sekitar jalanan pemuda. Okee, kembali ku nikmati jalanan beserta AC BRT. Lalala~

Ohmaigott, semakin mendekat jalan pemuda aku semakin terpukau. Tercengang. Terjerembab. Hampir menuju tugu muda tapi kenapa simpang lima tak kutemukan? Dimana aku berada? Di belahan bumi mana ini? tiba-tiba suara mas kenek membuyarkan pikiranku. Yang intinya jalan pemuda ditutup dan sebagai gantinya yang hendak turun sma 5 atau balaikota dialihkan di pasar karangayu. Wasii panggonan opo kui? Aku mengotek dalam hati. Hmm berfikir, berfikir. Khurnia punya otak kan? mesin feeling msh berfungsi kan? tangan kaki sehat kan? yaudahlah kita jalani aja dulu. Ya bener, aku bener2 jalan waktu itu. Pasar karangayu? Ah apaan tuhh, gak faham. Yang jelas ada tugu muda, lawang sewu sejauh mataku memandang. Oke, tanda-tanda sudah jelas. Jalan pemuda disitu, iya disitu.

Aku berjalan menyusuri jalan pemuda, dari ujung lawang sewu hingga entah, terserah kaki ini melangkah. Kucoba mengaktifkan hp, untuk bertanya dimana gerangan mejiku berada. Kuseka keringat yang terus mengucur. Ku semangati kakiku agar selalu mujur. Alhamdulillah, hpku sempat aktif. Ada sms masuk, tak buka. Dari salah satu personil mejiku. Sedetik, dua, tiga, hpku kembali mati. Pingen rasanya tak banting. Tapi... that’s impossible. Aku sempat membaca, intinya kumpulnya jadinya di spesix. Yasudah, wasalam.
Pingen ngamuk, yo wagu. Pingen nesu, kok lucu. Pingen nangis, lemah men. Pingen neng spesix, sudi men. Lha terus aku kudu pie? Yaudah lah kembali khusnul khotimah. Kulanjutkan jalanku. Karena mbalek pun percuma wes tekan tengah2. Yaudah kucukupkan sampai ujung paragon. Banyak persimpangan disana. Karena yang aku faham dan yg aku yakinihanya angkot yang kearah simpang lima. Yaudah aku kembali kesanaa. Finally, aku pulaaanggg. Pess apess. Oh ya aku ketemu pak bambang yg dulu jd kepala sekolah smanda loohh disitu, deket paragon tepatnya. Sempet salaman juga. Walaupun aku tahu, beliau gak tahu aku siapa wkwk. Pasti itu.

4.       BRT. Sekarang aku langganan BRT loh. Jangan tanya mengapa, karena alasanku seperti pelajar kebanyakan NGIRITTT. Kenapa kumasukkan ini sebagai rekor? Yaa karena memang pantas dijadiin rekor. Sebenarnya masalahnya itu Cuma pada waktu. Karena did you know! Aku pernah naik BRT bel pulang langsung pulang sampai rumah jam 16.30. sangarr hampir 2,5 jam. Pernah lagi suatu waktu, aku pulang jam tengah 5 hampir jam 5 gitu. E lha dalah samapi rumaah jam 20.30. kurang kentip apa cobak!  Ah kalo bukan bukan karena ngirit, aku bakal berpikir berkali-kali deh buat naik BRT. Tapii ya gimana lagi-_-


Oke, fix. Its my rekor. What’s your rekor?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar